@li

Kamis, 23 Mei 2013

KUMPULAN ARTIKEL

CARA MENAJAMKAN MATA BATHIN

Seluruh kekuatan yang ada didunia ini, bersumber dari kuasa Allah SWT. Segala usaha pencapaian manusia dalam meningkatkan konsentrasi batinnya kepada Allah, akan memberikan konsesi yang besar berupa pengetahuan dan kemampuan melebihi rata-rata orang lain.
Mata Batin atau dalam Istilah Tasawuf Al Bathinah merupakan Indera keenam yang Allah berikan kepada setiap manusia, Mata Batin ibarat kaca yang dapat melihat sesuatu (bercermin) atau ibarat pisau tumpul yang dapat diasah sampai tajam sehingga dapat memotong sesuatu benda.
Setiap manusia mempunyai mata batin yang asal mulanya Allah ciptakan bersih tanpa ada noda sedikitpun tetapi kemudian dinodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian.
Ketika kita masih kecil mata batin kita masih bersih sehingga dapat melihat hal-hal yang ghoib dan mudah menangkap Ilmu Pengetahuan dengan mudah tetapi setelah kita besar mata batin kita sudah ternodai oleh sifat-sifat buruk dan keduniawian sehingga tidak dapat melihat lagi hal-hal yang ghoib (tertutup), tempat mata hati adalah Qalbu ( hati nurani ) yang selalu berubah setiap saat sesuai dengan perbuatan manusia sehari-hari jika berbuat jahat akan lupa kepada Allah maka Qalbu itu menjadi kotor dan jika berbuat baik atau berzikir Qalbu itu akan bersih kembali.
Dalam Hadist Nabi disebutkan : “Hati manusia itu ibarat sehelai kain putih yang apabila manusia itu berbuat dosa maka tercorenglah / ternodailah kain putih tersebut dengan satu titik noda kemudian jika sering berbuat dosa lambat-laun sehelai kain putih itu berubah menjadi kotor / hitam”. Jika hati nurani sudah kotor maka terkunci nuraninya akan sulit menerima petunjuk dari Allah.
Ada Empat Tahapan Untuk Menajamkan atau Membersihkan Mata Batin :
Pertama, Mengosongkan hati dari sifat-sifat buruk seperti iri, dengki, benci, dan dari sifat keduniawian.
Kedua, Membuang daya khayal yang mengganggu keyakinan hati kemudian berpikir tentang hal-hal yang ghoib yang kita ketahui.
Ketiga, Mendawamkan ( Kontinue ) sholat dan berzikir pada malam hari karena kesepian malam dapat menambah kekhusuk-an hati.
Keempat, Meningkatkan Iman dan Kecintaan kepada Allah yaitu : mencintai Allah dari segala-galanya selalu Munajad ( mohon pertolongan Allah ), dan Istikharoh ( meminta petunjuk dari Allah SWT )
LANGKAH-LANGKAH MEMPERKUAT CAHAYA BATHIN
Ada beberapa langkah yang memiliki pengaruh positif terhadap kecemerlangan Cahaya Batin manusia, yaitu :
> 1. Zikir
> 2. Do’a
> 3. Shalawat Nabi
> 4. Makanan Halal dan Bersih
> 5. Berpantang Dosa Besar
> 6. Berhati Ikhlas dan Berpantang Tamak
> 7. Bersedekah ( Dermawan )
> 8. Mengurangi Makan dan Tidur
> 9. Zikir Kalimah Toyyibah
> 10. Mengenakan Wewangian
Beberapa hal tersebut diatas apabila diamalkan, Insya Allah seseorang akan memiliki cahaya/kekuatan batin yang kuat sehingga apa yang terprogram dalam hati akan cepat terlaksana.
1. Z i k i r.
Zikir memiliki pengaruh yang kuat terhadap kecemerlangan cahaya batin. Hati yang selalu terisi dengan Cahaya Zikir akan memancarkan Nur Allah dan keberadaannya akan mempengaruhi perilaku yang serba positif.
Kebiasaan melakukan zikir dengan baik dan benar akan menimbulkan ketentraman hati dan menumbuhkan sifat ikhlas. Hikmah zikir amatlah besar bagi orang yang ingin membangkitkan kekuatan indera keenamnya ( batin ). Ditinjau dari sisi ibadah, zikir merupakan latihan menuju Ikhlasnya hati dan Istiqomah dalam berkomunikasi dengan Al Khaliq ( Sang Pencipta ).
Ditinjau dari sisi kekuatan batin, zikir merupakan metode membentuk dan memperkuat Niat Hati, sehingga dengan izin Allah SWT, apa yang terdapat dalam hati, itu pula yang akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, zikir memiliki beberapa manfaat, diantaranya : Membentuk, Memperkuat Kehendak, Mempertajam Batin, sekaligus bernilai Ibadah.
Dengan zikir berarti membersihkan dinding kaca batin, ibarat sebuah bohlam lampu yang tertutup kaca yang kotor, meyebabkan cahaya-sinarnya tidak muncul keluar secara maksimal. Melalui zikir, berarti membersihkan kotoran yang melekat sehingga kaca menjadi bersih dan cahaya-sinarnya bisa memancar keluar.
Sampai disini mungkin timbul suatu pertanyaan. Apakah zikir memiliki pengaruh terhadap kekuatan batin? untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya perlu diketahui bahwa hal tersebut merupakan bagian dari karunia Allah SWT.
Dalam sebuah Hadist. Bahwa dengan selalu mengingat Allah menyebabkan Allah membalas ingat kepada seorang hamba-Nya “Aku selalu menyertai dan membantunya, selama ia mengingat Aku” karena itu, agar Allah senantiasa mengingat Anda, perbanyaklah mengingat-Nya dengan selalu berzikir.
2. Do’a.
Seseorang yang ingin memiliki kekuatan Rohani pada dirinya, hendaklah memperbanyak do’a kepada orang lain, disamping untuk diri sendiri dan keluarganya. Caranya, cobalah anda mendo’akan seseorang yang anda kenal dimana orang itu sedang mengalami kesulitan.
Menurut para Ahli Hikmah, seseorang yang mendo’akan sesamanya maka reaksi do’a itu akan kembali kepadanya, contohnya : Anda mendo’akan si “A” yang sedang dirundung duka agar Allah berkenan mengeluarkan dari kedukaan, maka yang pertama kali merasakan reaksi do’a itu adalah orang yang mendo’akan, baru setelah itu reaksi do’anya untuk orang yang dituju.
Karena itu semakin banyak anda berdo’a untuk kebaikan sahabat, guru anda, orang yang dikenal / tidak dikenal, siapa pun juga, maka akan semakin banyak kebaikan yang akan anda rasakan. Sebaliknya jika anda berdo’a untuk kejelekan si “A” sementara si “A” tidak patut di do’akan jelek maka reaksi do’a tersebut akan kembali kepada Anda. Contohnya : Anda berdo’a agar si “A” jatuh dari sepeda motor, maka boleh jadi anda akan jatuh sendiri dari sepeda motor, setelah itu baru giliran si “A”.
Tetapi dalam sebuah Hadist disebutkan, Seseorang yang berdo’a untuk kejelekan sesamanya maka do’a itu melayang-layang di Angkasa, jika orang yang dido’akan jelek itu orang zalim maka Allah SWT akan memperkenankan do’anya, sebaliknya jika orang yang dituju itu orang baik-baik, maka do’a itu akan kembali menghantam orang yang berdo’a.
Dari sini lalu timbul konsep “Saling Do’a men Do’akan” seperti guru memberikan atau menghadiahkan do’a berupa surat Al Fatehah kepada muridnya. Sebaliknya murid pun berdo’a untuk kebaikan gurunya. Lalu siapa yang patut disebut guru?. Guru adalah orang yang memberikan informasi pengetahuan akan suatu ilmu. Dimana ilmu itu selanjutnya kita amalkan dan bermanfaat.
Dalam Hadist yang lain disebutkan bahwa do’a yang mudah dikabulkan adalah do’a yang diucapkan oleh seorang sahabat Secara Rahasia, Mengapa ?? ini disebabkan karena do’a itu diucapkan secara Ikhlas. Keikhlasan memiliki nilai (kekuatan) yang sangat tinggi.
Karena itu perbanyaklah berdo’a atau mendo’akan sesama yang sedang dirundung duka. Insya Allah reaksi dari do’a itu akan anda rasakan terlebih dahulu, selanjutnya baru orang yang anda do’akan, semoga .
Di samping itu, mendo’akan seseorang memiliki nilai dalam membentuk kepribadian lebih peka terhadap persoalan orang lain. Jika hal ini dikaitkan dengan janji Allah ; Bahwa barang siapa yang mengasihi yang dibumi maka yang dilangit akan mengasihinya, berlakulah hukum timbal balik. Siapa menanam kebajikan ia akan menuai kebajikan juga, sebaliknya jika ia menanam kezaliman maka ia pun akan menuai kezalimannya juga.
3. Shalawat Nabi.
Mungkin sudah sering/ pernah mendengar nasihat dari orang-orang tua kita bahwa kalau ada bahaya, kita disarankan salah satunya adalah untuk memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Konon dengan mendo’akan keselamatan kepada Nabi, Allah SWT akan mengutus para malaikat untuk ganti mendo’akan keselamatan kepada orang itu. Dalam beberapa hadist Rasullullah SAW banyak kita temukan berbagai keterangan tentang Afdalnya bershalawat. Diantaranya : “Setiap do’a itu Terdindingi, sampai dibacakan Shalawat atas Nabi “. (HR. Ad- Dailami).
Pada hadist yang lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’I dan Hakim, Rasullullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca Shalawat untuk Ku sekali, maka Allah membalas Shalawat untuknya sepuluh kali dan menanggalkan sepuluh kesalahan darinya dan meninggikannya sepuluh derajat “.
Yang berkaitan dengan urusan kekuatan batin, terdapat dalam Hadist yang diriwayatkan Ibnu Najjar dan Jabir, “Barangsiapa ber-Shalawat kepada Ku dalam satu hari seratus kali, maka Allah SWT memenuhi seratus hajatnya, tujuh puluh daripadanya untuk kepentingan akhiratnya dan tiga puluh lagi untuk kepentingan dunianya”.
Berdasarkan hadist-hadist itu, benarlah adanya jika orang-orang tua kita menyuruh anak-anaknya untuk memperbanyak shalawat kepada anak cucunya. Karena selain merupakan penghormatan kepada junjungannya juga memiliki dampak yang amat menguntungkan dunia dan akhirat.
4. Makanan Halal dan Bersih.
Seseorang yang ingin memiliki kekuatan batin bersumber dari tenaga Ilahiyah harus memperhatikan makanannya. Baginya pantang kemasukan makanan yang haram karena keberadaannya akan mengotori hati. Makanan yang haram akan membentuk jiwa yang kasar dan tidak religius. Makanan yang haram disini bukan hanya dilihat dari jenisnya saja ( Misal ; Babi, bangkai, dll. ), tapi juga dari cara dan proses untuk mendapatkan makanan tersebut.
Efek dari makanan yang haram ini menyebabkan jiwa sulit untuk diajak menyatu dengan hal-hal yang positif, seperti : dibuat zikir tidak khusuk, berdo’a tidak sungguh-sungguh dan hati tidak tawakal kepada Allah.
Daging yang tumbuh dari makanan yang haram selalu menuntut untuk diberi makanan yang haram pula. Seseorang yang sudah terjebak dalam lingkaran ini sulit untuk melepaskannya, sehingga secara tidak langsung menjadikan hijab atau penghalang seseorang memperoleh getaran/ cahaya Illahiyah.
Disebutkan, setitik makanan yang haram memberikan efek terhadap kejernihan hati. Ibarat setitik tinta yang jatuh diatas kertas putih, semakin banyak unsur makanan haram yang masuk, ibarat kertas putih yang banyak ternoda tinta. Sedikit demi sedikit akan hitamlah semuanya.
Hati yang gelap menutupi hati nurani, menyebabkan tidak peka terhadap nilai-nilai kehidupan yang mulia. Seperti kaca yang kotor oleh debu-debu, sulitlah cahaya menembus nya. Tapi dengan zikir dan menjaga makanan haram, hati menjadi bersih bercahaya.
Begitu halnya jika anda menghendaki dijaga para malaikat Allah, jangan kotori diri anda dengan darah dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram. Inilah mengapa para ahli Ilmu batin sering menyarankan seorang calon siswa yang ingin suatu ilmu agar memulai suatu pelajaran dengan laku batin seperti puasa.
Konon, puasa itu bertujuan menyucikan darah dan daging yang timbul dari makanan yang haram. Dengan kondisi badan yang bersih, diharapkan ilmu batin lebih mampu bersenyawa dengan jiwa dan raga. Bahkan ada suatu keyakinan bahwa puasa tidak terkait dengan suatu ilmu. Fungsinya hanya untuk mempersiapkan wadah yang bersih terhadap ilmu yang akan diwadahinya.
Berpantang melakukan dosa-dosa besar juga dalam upaya membersihkan rohani. Di mana secara umum kemudian dikenal pantangan Ma-Lima yaitu : Main, Madon, Minum, Maling dan Madat, yang artinya berjudi, zina, mabuk-mabukan, mencuri dan penyalahgunaan narkotika.
Walau lima hal ini belum mencakup keseluruhan dosa besar tetapi kelimanya diyakini sebagai biang dari segala dosa. Judi umpamanya, seseorang yang sudah terlilit judi andaikan ia seorang pemimpin maka cendrung korup dan hanya kecil kejujuran yang masih tersisa padanya.
Begitu halnya dengan perbuatan seperti zina, mabuk-mabukan, mencuri, dan menyalahgunakan narkotika diyakini sebagai hal yang mampu menghancurkan kehidupan manusia. Karena itu orang yang ingin memiliki kekuatan batin yang hakiki hendaknya mampu menjaga diri dari lima perkara ini.
Seseorang yang sudah “Kecanduan” satu diantara yang lima perkara ini bukan hanya rendah dipandang Allah, dipandangan manusia biasa pun ikut rendah. Nurani yang kotor menyebabkan do’a-do’a tidak terkabul.
Beberapa langkah apabila dilakukan secara konsekuen, Insya Allah menjadikan manusia “Sakti” Dunia Akhirat. Getaran batinnya kuat, ibarat voltage pada lampu yang selalu di tambah getarannya sementara kaca yang melingkari lampu itu pun selalu dibersihkan melalui laku-laku yang positif.
Hikmah suatu amalan (bacaan) biasanya terkait dengan perilaku manusianya. Dalam hadistnya Turmudzi meriwayatkan, “Seseorang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan memurnikan niat, pasti dibukakan untuknya pintu-pintu langit, sampai ucapannya itu dibawa ke Arsy selagi dosa-dosa besar dijauhi”.
Hadist ini bisa ditafsiri bahwa suatu amalan harus diimbangi dengan pengamalan. Adanya keselarasan antara ucapan mulut dengan tindakan menyebabkan orang itu mencapai hakikatnya “Kekuatan-Kesaktian”.
6. Berhati Ikhlas Berpantang Tamak.
Seseorang yang memiliki hati ikhlas, tidak rakus dengan dunia lebih memiliki kepekaan dalam menyerap pelajaraan ilmu batin. Secara logika, orang yang berhati ikhlas lebih mudah memusatkan konsentrasinya pada satu titik tujuan, yaitu persoalan yang dihadapinya.
Disebutkan bahwa orang yang berhati ikhlas diperkenankan Allah SWT untuk : Berbicara, Melihat, Berpikir dan Mendengar bersama dengan Lidah, Mata, Hati dan Telinga Allah ( baca hadist Thabrani ).
Hati yang ikhlas identik dengan ketiadaan rasa tamak. Orang yang memiliki sifat ikhlas dan tidak tamak amat disukai manusia. Rasullullah SAW pernah didatangi seorang sahabat yang ingin meminta resep agar disukai Allah SWT dan disukai sesama manusia. Rasullullah bersabda : “Jangan rakus dengan Harta Dunia, tentu Allah akan menyenangimu, dan jangan tamak dengan hak orang lain, tentu banyak orang yang menyenangimu “.
Hadist ini jika dikaitkan dengan kehidupan para spiritualis mereka memiliki power pertama kali disebabkan karena kharismanya, jika seseorang itu banyak disukai sesamanya maka apa yang diucapkan pun akan dipercaya. Sebaliknya walau orang itu berilmu tinggi tetapi kalau tidak disukai sesamanya maka apa yang diucapkannya pun tidak akan ada yang menggubris.
7. Bersedekah ( Dermawan ).
Bersedekah selain untuk tujuan ibadah sosial juga memiliki pengaruh terhadap menyingkirnya bahaya. Banyak hadist membahas masalah sedekah berkaitan dengan tolak-balak. Dengan banyak bersedekah, seseorang akan memperoleh limpahan rezeki dan kemenangan.
Rasullullah SAW bersabda : “Wahai Manusia !! Bertobatlah Kamu kepada Allah sebelum mati, segeralah Kamu beramal saleh sebelum Kamu sibuk, sambunglah hubungan dengan Tuhanmu dengan memperbanyak zikir dan memperbanyak amal sedekah dengan rahasia maupun terang-terangan. Tuhan akan memberi Kamu rezeki, pertolongan dan kemenangan”. (HR Jabir RA)
Dalam kehidupan bermasyarakat kita bisa melilhat hikmah dari sedekah ini. Seseorang yang memiliki jiwa dermawan amat disukai sesamanya. Logikannya jika orang itu disukai banyak orang maka ia jauh dari bahaya.
Kisah nyata terjadi pada suatu daerah. Dua orang yang sama-sama memiliki ilmu batin memiliki kebun mangga. Ketika hampir musim panen, mangga dari seorang dermawan itu tidak ada yang mencurinya, sebaliknya kebun mangga yang milik orang bakhil itu banyak dicuri anak-anak muda.
Disinyalir, pencurian itu terjadi karena unsur “Tidak Suka” dengan pemilik kebun. Sedangkan anak-anak muda itu mengapa tidak mau mencuri kebun milik sang dermawan, rata-rata mereka mengutarakan keengganannya “Ah dia orang baik kok kita kerjain” katanya, nah anda ingin menang dan sakti dunia akhirat ?? perbanyaklah sedekah.
8. Mengurangi Makan dan Tidur.
Sebuah laku tirakat yang universal yang berlaku untuk seluruh makhluk hidup adalah puasa. Ulat agar bisa terbang menjadi kupu-kupu harus berpuasa terlebih dahulu, ular agar bisa ganti kulit harus puasa terlebih dahulu dan ayam agar bisa beranak pun harus puasa terlebih dahulu.
Secara budaya banyak hal yang dapat diraih melalui puasa. Orang-orang terdahulu tanpa mempermasalahkan sisi ilmiahnya aktivitas puasa telah berhasil mendapatkan segala daya linuwih atau keistimewaan melalui puasa yang lazim disebut tirakat.
Para spiritualis mendapatkan Wahyu maupun Wisik ( Petunjuk ghoib melalui puasa terlebih dahulu ). Dan tradisi itu masih terus dilestarikan orang-orang zaman sekarang. Intinya sampai kapanpun orang tetap meyakini dengan mengurangi makan dalam hal ini adalah puasa, seseorang akan memperoleh inspirasi baru, intuisi.
Tradisi kita, ketika secara budaya sudah tiada lagi tempat untuk bertanya, melalui puasa seseorang bisa mendapatkan telinga yang baru dan ketika ia tak lagi mampu berkata, dengan puasa seseorang mampu memperoleh mulut yang baru.
Secara logika, puasa adalah bentuk kesungguhan yang diwujudkan melalui melaparkan diri. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh saja yang sanggup melakukannya. Aktivitas ini jika ditinjau dari sisi ilmu batin, menunjukan bahwa kesungguhan memprogram niat itu yang akan menghasilkan kelebihan-kelebihan.
Hati yang diprogram dengan singguh-sungguh akan menghasilkan seseuatu yang luar biasa. Karena itu dalam menempuh ilmu batin, aktivitas puasa mutlak dibutuhkan. Karena didalam puasa itu tidak hanya bermakna melaparkan diri semata. Lebih dari itu, berpuasa memiliki tujuan manonaktifkan nafsu syaithoni.
Non aktifnya nafsu secara tidak langsung meninggikan taraf spiritual manusia, sehingga orang-orang yang berpuasa do’a nya makbul dan apa yang terusik dalam hatinya sering menjadi kenyataan.
Menurut Imam Syafi’i dengan berpuasa seseorang terhindar dari lemah beribadah, berat badanya, keras hatinya, tumpul pikirannya dan kebiasaan mengantuk. Dari penyelidikan ilmiah puasa diyakini memiliki pengaruh terhadap kesehatan manusia.
Orang-orang terdahulu memiliki ketajaman mata batin dan manjur Ilmu kanuragannya karena kuatnya dalam Laku Melek atau mengurangi tidur malam hari. Bahkan burung hantu yang dilambangkan sebagai lambang ilmu pengetahuan pun disebabkan karena kebiasannya “Tafakur ” pada malam hari.
Dalam filosofi ilmu batin, memperbanyak tafakur malam hari menyebabkan seseorang memiliki “Mata Lebar”, yaitu ketajaman dalam melihat dan membaca apa-apa yang tersirat dibalik kemisterian alam semesta ini.
Bahkan ketika agama Islam datang pun membenarkan informasi sebelumnya yang dibawa oleh agama lain. Hanya Islam yang menginformasikan bahwa dengan ber-Tahajud ketika orang lain terlelap dalam tidur, menyebabkan orang itu akan ditempatkan Allah SWT pada tempat yang terpuji.
Pada keheningan malam terdapat berbagai hikmah. Melawan “Nafsu” tidur menuju ibadah kepada Allah SWT dan dalam suasana hening itu konsentrasi mudah menyatu. Saat inilah Allah SWT memberikan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya guna memohon apa saja yang diinginkan.
Banyak para spiritualis yang memiliki keunikan dalam ilmu batin bukan karena banyaknya ilmu dan panjangnya amalan yang dibacanya, melainkan karena laku prihatin pada malam harinya. Insya Allah seseorang yang membiasakan diri tafakur dan beribadah pada malam hari, maka Allah SWT akan memberikan keberkahan dalam ilmu-ilmunya.
9. Zikir Kalimah Toyyibah.
Ada hal-hal yang tersembunyi dibalik zikir kalimah Toyyibah “La ilaha illallah” pertama, zikir ini disebut sebagai sebaik-baiknya zikir, berdasarkan hadist riwayat Nasa’i, Ibnu Majjah, Ibnu Hibban, dan Hakim “Afdhaluzd dzikri La ilaha Illallaahu” yang artinya : sebaik-baik zikir adalah La ilaha illallah.
Kemudian pada hadist yang lain disebutkan bahwa dengan zikir kalimah Toyyibah ini menyebabkan pintu langit terbuka, selagi yang membaca kalimah itu orang yang menjauhi dosa-dosa besar. Sedangkan dengan mengamalkan zikir kalimah ini, sepanjang zikir ini diamalkan secara tulus ikhlas mengharap ridho Allah SWT, justru Allah yang akan mengatur potensi manusia.
Dalam hadist Qudsy tersurat : “Barang siapa disibukkan zikir kepada-Ku sehingga tidak sempat memohon dari-Ku maka Aku akan memberikan yang terbaik dari apa saja yang Ku berikan”.
Artinya : hikmah dari zikir kalimah Toyyibah itu, seseorang akan diberi karunia oleh Allah SWT walau jenis karunia itu tidak dimintanya. Ini Yang disebut dengan rezeki yang tak terduga-duga.
Hikmah lain, dari membiasakan diri berzikir kalimah “La ilaha illallah “, secara tidak langsung berarti merekam kalimat itu pada alam bawah sadar manusia. Seseorang dalam kondisi kritis, kalimat yang reflek muncul dari alam bawah sadarnya adalah kalimat yang paling akrab dengan lidah dan hatinya.
Maka, seseorang yang istiqomah dalam zikir kalimah “La ilaha illallah “, bila saat sakaratul maut hendak menjemput, Insya Allah kalimat itu yang akan muncul dari mulutnya. Dengan demikian berlakulah janji Allah SWT bahwa seseorang yang diakhir hayatnya mengucapkan kalimat “La ilaha illallah”, maka sorgalah balasannya.
Menyimak hal-hal dibalik kalimah Toyyibah ini, ada dua keuntungan yang bisa kita raih. Pertama keuntungan dunia berupa ketenangan hati akibat bias dari aktivitas zikir, juga keuntungan dunia berupa datangnya karunia yang dilimpahkan yang lebih baik dibanding hamba lain yang meminta.
Sedangkan pahala akhiratnya adalah menemui kematian dengan Khusnul Khotimah. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang memperoleh keuntungan dunia akhirat. Amin.
10. Memakai Wewangian.
Kalau kekuatan fisik seseorang ditentukan dari ototnya. Kekuatan ilmu batin ditentukan dari roh. Memperkuat roh, salah satu caranya dengan wewangian. Karena itu orang yang sedang mempelajari ilmu batin atau ingin melestarikan kekuatan ilmu batin dalam jiwa raganya, ia dituntut selalu mengenakan wewangian.
Disebutkan, wewangian amat dibenci setan dan disukai para malaikat. Pengertian “Wangi” disini bukan sekedar wangi karena bau minyak wangi. Wangi yang hakiki adalah wanginya kepribadian, dan itu berarti Ahlakul Karimah. Tentu saja, melengkapi antara syareat dan hakikat itu seseorang memang disunahkan memakai wewangian sekaligus menghiasi diri dengan Ahlak yang baik.


wallahu a'lamu bisowab.....

Rabu, 24 April 2013

PROFIL FAI-UNIYAP JAYAPURA

PROFIL 
FAKULTAS AGAMA ISLAM 
UNIVERSITAS YAPIS PAPUA JAYAPURA












BAB I
PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Fakultas Agama Islam Universitas Yapis Papua merupakan salah satu ujung tombak Yayasan Pendidikan Agama Islam di Tanah Papua, yang turut bertanggung jawab dalam pengembangan Ilmu-ilmu Agama Islam baik dalam bidang Pendidikan Islam maupun bidang Bimbingan Penyuluhan Islam. Disamping itu  Fakultas Agama Islam juga berupaya mempersiapkan guru Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah umum maupun madrasah yang tersebar di Provinsi Papua.
Pada tahun 2006 s/d. 2010, Fakultas Agama Islam telah mewisuda 60 orang guru Pendidikan Agama Islam dan 21 orang Pebimbing dan Penyuluh Agama Islam yang telah mengabdi dan membantu pemerintah untuk mencerdaskan bangsa di seluruh Provinsi Papua khususnya, dan di Indonesia pada umumnya.
Kebutuhan terhadap guru setiap tahun mengalami peningkatan, sehingga sulit untuk dipenuhi secara keseluruhan. Kebutuhan tersebut semakin mendesak baik dalam peningkatan kuantitas maupun kualitas. Kemajuan zaman dan teknologi mengharapkan guru yang berkompeten tidak saja di bidang pembelajaran tetapi juga dalam penciptaan media pendukung pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi.
Mengacu pada standar kebutuhan dalam peningkatan mutu, Fakultas Agama Islam merancang fakultas secara tentative dan predictable sehingga pengembangan mutu dapat dilakukan secara terarah. Rencana Strategis (renstra) Fakultas Agama Islam akan menjadi dasar kerja umum (general frame work) Fakultas dan seluruh Program Studi dalam pengelolaan kebijakan, sumberdaya dan aktivitas yang dibangun berdasarkan visi misi dan standar kebutuhan peningkatann umum sesuai dengan Peraturan Pemerintah N0. 15 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Renstra Fakultas Agama Islam akan menjadi rambu-rambu dalam upaya pencapaian tujuan fakultas dan program studi yang ada dalam menciptakan sumber daya manusia yang tangguh berkualitas beriman dan bertaqwa.

B.  Fungsi Renstra dan Renop
1.    Sebagai terjemahan praktis dari visi, misi dan tujuan Fakultas Agama Islam serta Program Studi yang ada.
2.  Sebagai pedoman umum dalam perumusan kebijakan operasional Fakultas Agama Islam dan Program Studi yang ada.
3.    Sebagai kerangka acuan umum dalam penyusunan program kerja tahunan Fakultas Agama Islam dan Progrm Studi yang ada.
4.    Sebagai instrumen kontrol dan evaluasi pengelolaan Fakultas Agama Islam dan Program Studi yang ada dalam periode lima tahunan.
5.    Sebagai jabaran dari kebijakan dasar dan perencanaan strategis Fakultas Agama Islam dan Prodi yang ada.

C.  Ruang Lingkup Renstra dan Renop
Uraian Renstra ini meliputi :
1.    Bidang akademik.
2.    Bidang administrasi umum.
3.    Sarana dan prasarana.
4.    Kemahasiswaan.
5.    Pembiayaan.

 

BAB II
KEDUDUKAN, TUGAS POKOK, DAN FUNGSI
FAKULTAS AGAMA ISLAM

A. Kedudukan
Fakultas Agama Islam adalah unsur pelaksana sebagian tugas Universitas Yapis Papua (UNIYAP). Fakultas Agama Islam dipimpin oleh seorang Dekan yang bertanggung jawab langsung pada Rektor.
B. Tugas Pokok
Fakultas Agama Islam mempunyai tugas pokok melaksanakan pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat di bidang ilmu Pendidikan Agama Islam dan Bimbingan Penyuluhan Islam untuk program Strata 1 (S1).
C. Fungsi
Untuk melaksanakan tugas tersebut Fakultas Agama Islam Universitas Yapis Papua (UNIYAP) mempunyai fungsi dalam hal:
1.    Penyusunan dan Perumusan kebijakan dan perencanaan program Fakultas.
2.    Pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat dalam bidang Pendidikan Agama Islam dan Bimbingan Penyuluhan Islam.
3.    Pelaksanaan pembinaan kemahasiswaan, civitas akademika dan kerjasama dengan perguruan tingggi / lembaga-lembaga lainnya.
4.    Pengendalian, pengawasan dan penyelenggaraan administrasi Fakultas.
5.    Penilaian prestasi penyelenggaraan kegiatan dan penyusunan laporan

 
BAB III
PROFIL FAKULTAS AGAMA ISLAM

A.   Sejarah FAI
Fakultas Agama Islam, sebelumnya  merupakan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis Jayapura yang didirikan pada tahun 1997. asal mula pendiriannya didasarkan pada minimnya pusat kajian Islam saat itu khususnya di kota Jayapura dan Papua ( yg dulu Irian Jaya) pada umumnya. Oleh karena itu beberapa pengurus Yapis dan tokoh agama terdorong untuk mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam sebagai jawaban atas permasalahan tersebut.
Pembentukan Sekolah Tinggi Agama Islam diawali dengan pembentukan Tim untuk menyusun proposal, sehingga pada tanggal 20 Dzulqa’dah 1417 H/ 29 Maret 1997 Pengurus Pusat Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) Irian Jaya mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 42/KPTS/YAPIS/1997 tentang pembentukan Tim penyusun proposal dan pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis Jayapura. Adapun komposisi Tim Pembuatan Proposal dan Pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis saat itu sebagai berikut:




NO
NAMA
JABATAN
01
Drs. H. Fachrur Rozy Hasy
Penasehat
02
Drs. Zubair Dg. Husen
Panasehat
03
Drs. Urip Wahyudi, MS
Ketua
04
Achmad Rofi’I, SE
Sekretaris
05
Drs. Ibrahim Muhammad
Anggota
06
Drs. Partino, M.Pd.
Anggota
07
Drs. Alwi Tianlean
Anggota



Selanjutnya pada tanggal 25 Muharram 1418 H/01 Juli 1997 Pengurus Pusat Yayasan Pendidikan Islam (YAPIS) Irian Jaya melalui Ketua Umum Drs. H. Samsu Suriatma atmadja dan Sekretaris Umum H. Ibrahim Sya’ban, BA mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 97/KPTS/Yapis/1997 tentang pengesahan berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis Jayapura. Kemudian pada 24 Agustus 1998 Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam RI di Jakarta melalui Direkturnya Dr. H. Husni Rahim mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: E/270/1998 tentang setatus terdaftar program strata Satu (S1) Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura Irian Jaya.
Dalam perkembangannya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis Jayapura telah mengalami beberapa pergantian Ketuanya, diantara mereka yang pernah menjabat ketua STAI YAPIS Jayapura adalah:
1.    Drs. H. Urip Wahyudi, MS
2.    Drs. H. Abdullah Baasalem
3.    Dr. H. Toni V.M. Wanggai, S.Ag, MA.
Seiring dengan perkembangannya, pada tahun 2006 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yapis Jayapura  bergabung dengan Universitas Yapis Papua dan merubah namanya menjadi Fakultas Agama Islam Universitas Yapis Papua Jayapura. Secara organisasi, saat ini Program Studi Pendidikan Agama Islam, berada di bawah Fakultas Agama Islam Universitas Yapis Papua. Adapun yang diamanahi sebagai Dekan Fakultas Agama Islam pertama kali adalah Dr. H. Toni V. M. Wanggai, S.Ag, MA. periode tahun 2006 sampai dengan pertengahan tahun 2011. kemudian sesuai dengan surat keputusan Rektor Universitas Yapis Papua Nomor: 237/A-16/VI/2011, dilaksanakan pengangkatan pegawai baru dilingkungan Universitas Yapis Papua Jayapura, dengan mengangkat Dekan Fakultas Agama Islam yang baru; Muh. Abdul Mukti, S.Ag, MA.  periode Tahun 2011 sampai dengan sekarang, beliau mengawali karir di Fakultas Agama Islam sekitar tahun 2004/2005 sebagai staf tata usaha, kemudian tahun 2008/2009 diangkat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam sampai dengan tahun 2011.


sumber : Borang Akreditasi FAI / Buku Renstra dan Renop Thn 2009-2014