Kamis, 13 November 2014
Rabu, 11 Juni 2014
SEPUTAR RAMADHAN
HADITS-HADITS
DHAIF SEPUTAR RAMADHAN
Menjelang
bulan suci Ramadhan, kita perlu menyiapkan fisik, mental, dan keilmuan dalam
menyambutnya. Kesiapan fisik dengan menjaga kebugaran tubuh atau berkonsultasi
ke dokter bagi yang mengalami sedikit problem dalam tubuhnya. Kesiapan mental
berupa penataan hati agar gembira menyambutnya. Terakhir, kesiapan ilmu dengan
memahami fiqih puasa dan hukum-hukumnya.
Menyiapkan
poin terakhir tidak hanya bagi masyarakat awam, tapi juga bagi para ustadz, dai
atau muballigh. Mereka harus membekali diri dengan pengetahuan yang optimal
seputar hukum puasa, agar dalam menyampaikan materi dakwah berdasarkan ilmu dan
analisa. Sebab, pada kenyataannya, para dai banyak yang kurang teliti dan
hati-hati dalam menyampaikan ilmunya. Contoh yang dikritisi pada artikel ini
adalah dalam masalah mengutip hadits Nabi saw.
Telah
dimaklumi kegigihan para ulama hadits (Muhadditsin) dalam menghimpun hadits
Rasulullah saw dan membukukannya merupakan sumbangsih terbesar setelah
pembukuan Al-Qur’an. Sebab, Hadits
Nabawi adalah referensi hukum kedua setelah kitabullah. Para muhadditsin dengan
metodologi yang sangat cermat dan teliti berusaha mensterilkan big project
mereka dari virus-virus hadits maudhu’ dan dhaif agar sunnah Nabawiah tetap terpelihara keotientikannya.
Pada
bulan Ramadhan, ternyata para da’i
kita tanpa disadari banyak menyepelekan jerih payah para muhadditsin di atas.
Mereka tanpa beban kerap mensitir hadits-hadits dhoif bahkan maudhu’ tanpa
mengklarifikasi derajat haditsnya. Pada akhirnya hadits-hadits tersebut begitu
mudahnya diterima oleh masyarakat kita.
Pertama Contoh kasus seperti
doa, ”Allohumma barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa balligna Romadhona.”(HR.
ahmad, At-Tobroni, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi). Hadits ini ternyata sangat lemah. Ia diriwayatkan hanya melalui satu jalur saja
yaitu dari Zaidah bin Abiroqqod. Ia adalah sumber cacat hadits ini. Imam
Al-Bukhori, An-Nasa’I dan Ibnu Hajar menyebutnya sebagai mungkarul hadits
artinya seorang yang amat fatal kesalahannya, pelupa, dan jelas kefasikannya. Setidaknya para dai bila ingin terus memakai
doa ini, hendaklah tanpa menisbatkannya kepada Rasulullah saw atau sebagai
pelajaran dengan menyertakan derajat haditsnya.
Tentu itu lebih selamat. Demikian menurut Imam Ibnu Hibban.
Hadits
Kedua “permulaan Ramadhan itu rahmat, pertengahannya magfiroh dan
penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.” (HR. Addailamy dan Ibnu
‘Asakir). Ungkapan yang sangat masyhur ini selalu didengungkan oleh para dai
tapi sedikitpun mereka tidak pernah menyertakan kualitas haditsnya. Menurut
Imam As-Suyuti dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hadits ini amat lemah. Sedang menurut Syeikh
Albani, hadits
ini mungkar. Otak masalahnya adalah karena terdapat dua orang perawi yaitu
Sallam bin Sawwar dan Maslamah Bin Al-Salt. Perawi pertama adalah seorang mungkarul
hadis menurut Ibnu ‘Adi. Adapun Imam Khotib Al-Bagdadi menegaskan tidak boleh
berhujjah dengan haditsnya. Adapun Maslamah juga setali tiga uang dengan
Sallam bin Sawwar.
Berpedoman
dengan hadits mungkar di atas, otomatis menyetujui klasifikasi Ramadhan menjadi
3 bagian, padahal Ramadhan tidak mengenal pengklasifikasian seperti itu
(rahmat, magfiroh, dan pembebasan dari neraka). Ramadhan adalah bulan yang
menghimpun tiga keutamaan itu dari awal sampai akhirnya.
Ketiga:
”Sedekah paling baik adalah bersedekah pada bulan Ramadhan.” Hadits yang
sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Al-Baihaqi dari jalur
Sodaqoh bin Musa. Imam Abu Hatim menganggapnya terlalu lunak walaupun haditsnya
ditulis tapi tidak bisa dipakai berdalil. Imam Tirmizi sendiri memiliki komentar miring
terhadap Sadaqoh. Alangkah baiknya para dai dan penceramah tidak menggunakan
hadits ini sebagai dalil kecuali bila disertai dengan menyebut komentar para
ulama.
Keempat yang tak kalah masyhur,
”Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”seandainya
ummatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan
agar Ramadhan menjadi satu tahun penuh.” Hadits yang dikutip oleh Syaikh Usman
al-Khubari dalam kitabnya, Durroh An-Nasihin, sebuah kitab yang banyak
dikritik oleh para muhadditsin karena kandungan hadits-hadits lemah, palsu, dan
kisah-kisah imajinatif (DR. Luthfi Fathullah telah menghimpun semuanya menjadi
sebuah buku).
Hadits
yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan
oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, Al-Baihaqi dan Abu ya’la. Matannya berisi
janji muluk-muluk diantaranya bahwa siapapun yang berpuasa Ramadhan sehari, ia
akan beristrikan seorang bidadari dengan diskripsi yang sangat elok. Secara
keseluruhan terdapat musykil di dalam hadits ini, baik dari segi matan dan sanadnya.
Dalam sanadnya terdapat Jarir bin Ayyub Al-Bajali yang oleh Imam Ibnu Jauzi
dinilai pemalsu hadits, matruk dan mungkar. Tiga predikat tadi memperparah derajat
hadits ini. Ibnu
Hajar di dalam Lisanul Mizan menilai
Jarir masyhur dengan kelemahannya. Sebenarnya
Imam Ibnu Khuzaimah pun ragu akan keshahihannya. Terbukti beliau menambahkan
catatan “jika hadits
ini shahih”, setelah menulisnya.
Kelima,
Ungkapan yang paling rada aneh lalu dianggap hadits adalah, ”Tidurnya orang berpuasa itu
ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya berlipat ganda, doanya makbul, dan
dosanya diampuni.” (HR. Al-Baihaqi) Kalimat
pertama kerap dijadikan dalih bagi para pemalas yang menghabiskan waktunya
dengan tidur-tiduran. Adapun kalimat berikutnya tak pernah disebut-sebut. Oleh Imam Al-Baihaqi sendiri, beliau menilai
hadits ini dhoif karena
terdapat Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr Al Nakha’I di dalam rantai
sanadnya. Imam Ahmad, Al-Iraqi, dan Al-Minawi sepakat menyebut Sulaiman sebagai
pendusta dan pemalsu hadits.
Ternyata hadits
yang selama ini sering kita jadikan dalih adalah hadits palsu.
Keenam, “Berpuasalah,
niscaya kalian akan sehat.” Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat
Ibnu Adi di dalam Al Kamil dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dai Ad Dhahhak dari
ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal karena dia pendusta dan Ad Dhahhak
tidak mendengarkan dari ibnu Abbas.
Diriwaatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad
bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhair bin muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih
dari Abi hurairah. Dan sanad hadits ini lemah. Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya
(Zuhair bin Muhammad) jelek.”
Tidak bisa dipungkiri bahwa
puasa berdampak positif bagi kesehatan. Kini puasa banyak disarankan oleh para
pakar sebagai terapi penyembuhan. Namun, kita perlu hati-hati mensitir ungkapan di atas
sebagai hadits Nabi saw.
Catatan terakhir adalah jawaban Rasul Saw saat ditanya tentang resep
kesehatan beliau dan para sahabat, ”Kami adalah kaum yang tidak makan sehingga kami lapar dan apabila kami makan
tidak sampai kenyang.” Jawaban yang tidak
bertentangan dengan ilmu kesehatan. Tapi apakah itu benar sabda Nabi saw? Prof.
DR. KH. Ali Mustafa Yaqub telah menelusuri asal-usul hadis ini, tetapi tak
kunjung ditemui dalam kitab-kitab hadits.
Beliau malah menemukannya dalam kitab al-Rahmah Fitthib wal hikmah karya
Imam As-Suyuti. Ternyata hadits
di atas adalah jawaban seorang thabib dari Sudan saat ditanya oleh Kisra Persia tentang obat apa yang
paling manjur.
Kisah
di atas juga dinukil oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Madarij Al-Shu’ud.
Dengan ini cukuplah bagi para da’i sebuah hadits yang dianggap shohih oleh para ulama
seperti hadits
sepertiga untuk makanan, sepertiga minuman dan sepertiganya lagi untuk minuman
untuk disampaikan kepada jamaah agar tidak berlebih-lebihan dalam berbuka.
Untuk
lebih lengkapnya, para pembaca dapat menelaah hadits-hadits bermasalah seputar
Ramadhan dalam kitab Tahzhirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi Ad-Daifah
Haula Romadhon karya Syaikh Ibnu Umar Abdullah Muhammad Al-Hamadi, buku Hadits-hadits
Palsu Seputar Ramadhan karya Prof.KH. Ali Mustafa Yaqub, salah seorang
muhaddits ternama Indonesia, buku Sifat Puasa Nabi Sallallahu Alaihi wa
Sallam karya Syaikh Ali
Hasan Ali Abdul Hamid Saalim Al Hilali.
Tulisan ini banyak diambil dari referensi di atas.
Mengingat
betapa pentingnya menjaga diri agar tidak terjebak dalam menyampaikan berbagai
ungkapan atas nama Nabi saw dan mengingat para da’i adalah penyambung lidah Nabi saw, sungguh
tidak pantas apabila mereka enggan menyeleksi dalil-dalil yang mereka
sampaikan. Hadits-hadits bermasalah di atas sudah bergentayangan. Padahal para
ulama jauh-jauh hari sudah mengoreksinya lewat karya-karya mereka. Semoga semua
ini bukan kesengajaan karena “Barangsiapa yang berbohong atas atas namaku
secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”(Muttafaq Alaih)
Wallohu a’lam.

SHOLAT TARAWIH
Tulisan tentang tarawih ini hanya menggunakan sudut pandang hadis, yang disarikan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan
karya Prof. Dr KH Ali Mustafa Yaqub, MA., guru di
Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, anggota komisi fatwa MUI, Imam
Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ)
Jakarta (semoga Allah selalu menjaganya)…
Tidak Ada Istilah “Tarawih”
Kata “tarawih” adalah bentuk plural dari kata “tarwihah”, yang secara
kebahasaan memiliki arti “ mengistirahatkan” atau “duduk istirahat”.
Maka dari sudut bahasa, salat tarawih adalah shalat yang banyak
istirahatnya. Kemudian, tarawih dalam nomenklatur Islam digunakan untuk
menyebut shalat sunah malam hari yang dilakukan hanya pada bulan
Ramadan.
Pada masa Rasul tidak ada istilah “salat tarawih”. Dalam
hadis-hadisnya, Rasul tidak pernah menyebut kata itu. Dan kata yang
digunakan adalah “qiyam ramadhan”. Tampaknya istilah “tarawih” muncul
dari penuturan Aisyah, isteri Rasul. Seperti diriwayatkan oleh Imam
Baihaqi, Aisyah mengatakan,
“Nabi salat malam empat rakaat, kemudian yatarawwahu (istirahat). Kemudian kembali salat. Panjang sekali salatnya.”
Dalil Tarawih 20 Rakaat Lemah
Di negeri kita, ada dua versi pelaksanaan salat tarawih, dua puluh rakaat dan delapan rakaat.
Rumusan dalil yang menjadi dasar pelaksanaan tarawih duapuluh rakaat
adalah hadis riwayat Imam Thabarani dan Imam Khatib Al-Baghdadi. Riwayat
itu,
Ibnu Abas bertutur, “Pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad salat dua puluh rakaat dan witir.”
Hadis di atas, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah,
lemah sekali. Titik lemah hadis ini adalah pada salah satu periwayatnya
(dalam rangkaian sanad hadis ini) yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin
Utsman.
Menurut Imam Bukhari, para ulama tidak mau berkomentar tentang Abu Syaibah. Imam Tirmidzi menilai hadis Abu Syaibah munkar. Sedangkan Imam Nasai menilai matruk.
Bahkan Imam Syu’bah menilai Abu Syaibah sebagai pendusta. Dalam disipln
ilmu hadis, komentar-komentar miring seperti di atas memberikan
implikasi yang bersangkutan jika meriwayatkan hadis, maka status hadis
itu menjadi tidak valid.
Maka, hadis riwayat Ibnu Abas di atas dapat dikategorikan sebagai hadis palsu atau minimal matruk (semi
palsu), karena ada rawi pendusta (Abu Syaibah) dalam rangkaian
sanadnya. Pada gilirannya, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil
untuk salat tarawih dua puluh rakaat. Dengan kata lain, apabila kita
salat tarawih dua puluh rakaat atas dasar dalil hadis di atas, maka kita
telah malakukan kekeliruan.
Dalil Tarawih 8 Rakaat Juga Lemah
Hadis yang diindikasikan sebagai dalil salat tarawih delapan rakaat adalah hadis yang disebutkan dalam kitab Shahih IbnuHibban sebagai berikut,
Jabir bin Abdullah berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi lalu berkata, “Rasul, tadi malam (bulan Ramadan) aku melakukan sesuatu.” Kata Nabi, “Apa itu?” Ubay menjawab, “Para wanita di rumahku tidak ada yang bisa baca Alquran. Mereka memintaku menjadi imam salat. Kemudian kami salat delapan rakaat ditambah witir.” Rasul diam saja mendegar penuturan Ubay. Jabir menganggap Nabi memperkenankan apa yang telah dilakukan oleh Ubay.
Kualitas hadis ini sangat lemah, sebab dalam rangkaian sanadnya
terdapat salah seorang periwayat yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut
para ahli kritik hadis papan atas, seperti Imam Nasai dan Imam Ibnu
Main, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah kualitasnya
lemah. Imam Nasai menilai hadisnya matruk (palsu, karena diriwayatkan oleh pendusta). Hadis ini pun gugur sebagai dalil tarawih delapan rakaat.
Ada juga hadis lain tentang salat tarawih delapan rakaat, bahkan
lebih kongkrit dari hadis di atas, yang diriwayatkan oleh Ja’far bin
Humaid dari Jabir bin Abdullah,
“Nabi pernah mengimami kami salat pada satu malam Ramadan dengan delapan rakaat.”
Tapi sayang, hadis ini kualitasnya sama dengan hadis di atas, sebab
hadis ini juga diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah yang hadisnya dinilai matruk .
Dengan demikian, dalil salat tarawih delapan rakaat tidak memiliki sandaran nash yang kuat.
Hadis Shahih Ini Bukan Dalil Salat Tarawih
Hadis Imam Bukhari dan lain-lain yang diriwayatkan oleh Aisyah di
bawah ini kerap dijadikan dalil oleh sebagian kalangan yang menganut
tarawih delapan rakaat,
Rasul tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan atau selainnya. Beliau salat empat rakaat. Tak perlu ditanyakan lagi, betapa bagus dan panjang salatnya itu. Setelah salam, ia kembali salat empat rakaat. Setelah itu, ia mengakhiri dengan salat tiga rakaat. Aisyah bertanya, “Rasul, apakah Engkau tidur sebelum melaksanakan salat witir?” Jawab Rasul, “Aisyah, matakau boleh tidur. Tapi tidak dengan hatiku.”
Benarkan hadis itu merupakan dalil salat tarawih delapan rakaat?
Pada hadis tersebut, Aisyah dengan gamblang menyatakan, Nabi tidak
pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan maupun
selainnya, alias sepanjang tahun. Salat yang dilakukan setiap malam
sepanjang tahun, tentunya bukan salat tarawih. Sebab salat tarawih hanya
dilaksanakan pada malam bulan Ramadan.
Oleh karen itu, para ulama berpendapat, hadis Aisyah di atas
berbicara tentang salat witir, bukan salat tarawih. Para ulama umumnya
juga menempatkan hadis itu pada bab salat witir atau salat malam, bukan
pada bab salat tarawih, seperti Al-Qadhi ‘Iyadh dan Imam Nawawi. Imam
Ibnu Hajar juga menempatkan hadis di atas dalam konteks salat witir.
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Abu Dauwd dari Aisyah di bawah ini bisa menjadi peneguh pendapat di atas,
Rasulullah salat malam tiga belas rakaat, terdiri dari salat witir dan dua rakaat fajar.
Tarawih Tidak Berorientasi Angka
Justeru, hadis shahih tentang salat tarawih atau “qiyam Ramadan”
tidak memberikan batasan jumlah rakaat yang pasti, tidak berorientasi
sedikit atau banyaknya jumlah rakaat salat. Hadis tersebut diriwayatkan
oleh Imam Bukhari, yaitu,
“Siapa yang menjalankan “qiyam Ramadan” karena iman kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan terampuni.”
Pada hadis itu, Nabi sama sekali tidak menyinggung bilangan rakaat
salat apalagi membatasinya. Kuantitas bukan orientasi utama dalam salat
tarawih, tapi yang mesti diutamakan adalah kualitas. Jadi, mau salat
tarawih empat rakaat silakan, enam rakaat monggo, delapan rakaat tidak
mengapa, dua puluh rakaat mbonten nopo-nopo, atau bahkan lima puluh,
seratus dan seterusnya, dengan catatan tetap menjaga kualitas; ikhlas,
khusu’, baik, dan sebagainya. Wallahu a’lam.
عن ابن عباس قال، كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر.
عن جابر بن عبد الله، قال: جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله
عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان.
قال: وما ذاك يا أبي؟ قال: نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرأن، فنصلي
بصلاتك. قال: قصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت. قال: فكان شبيه الرضا ولم
يقل شيئا.
صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر.
ما كان رسول الله صلى الله يزيد في رمضان ولا في غيره علىإحدى
عشرة ركعة. يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل
عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا. قالت عائشة رضي الله عنها، فقلت: يا رسول
الله، أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة، إن عيني تنامان ولا ينام قلبي.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة، منها الوتر وركعتا الفجر.
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.
Jumat, 20 September 2013
KHOTBAH JUM'AT
MEWUJUDKAN KETAQWAAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Quba, 20-12-2013
Betapa
pentingnya sikap dan perilaku taqwa, sehingga
dalam al-Qur’an disebutkan lebih 260 kali kata “TAQWA” ini, dan salah satu
diantaranya firman Allah Swt dalam Surat Al- Imran ayat 102.
يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ
ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
“Hai orang-orang yang
beriman, bertaqwalah kamu ke-pada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan
ja-nganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keada-an beragama Islam. (QS. Ali Imran, 3: 102)
Dan Firman Allah Swt dalam Al-qur’an surat Al-hujurat
ayat 13 menyatakan :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَكُمْ
“Sesungguhnya orang yang
paling mulia di
antara ka-mu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”. (QS. al-Hujurat, 49: 13)
Ma’syiral Muslimin Sidang
Jum’at Rahimakumullah
Ketaqwaan
merupakan puncak kehidupan ruhaniah manusia serta merupakan ajaran Islam yang
paling esensial. Ratusan kata taqwa dalam al-Qur’an, menunjukkan betapa
tingginya nilai kebajikan yang terkandung didalam-nya. Semua keutamaan yang
dihajatkan dalam kehidupan dunia dan akhirat sudah tercakup dalam kata taqwa
sendiri. Begitu pula berbagai sifat mulia dan terpuji seperti: jujur, adil,
amanah, ihsan, penyantun, pemaaf, sabar, syukur, menepati janji dan sebagainya
merupakan bagian dari taqwa itu sendiri. Sedangkan rahmat, nikmat, barokah dan
kebahagiaan semuanya merupakan buah dari ketaqwaan. Dengan demikian taqwa ini
bukan suatu penampilan luar melainkan status kedalaman diri manusia, yang
manifestasinya terpancar pada kehidupan nyata, yakni; sikap dan perilaku.
Taqwa menggambarkan keadaan yang paling dalam dari diri manusia mengenai
eksistensi hubungan-nya kepada Allah Swt .
Rasulullah
Saw menegaskan
اِنَّ اللهَ
لاَيَنْظُرُ اِلى صُوَرِكُمْ وَاَجْسَادِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ اِلى قُلُوْبِكُمْ
وَاَعْمَالِكُمْ، اَلتَّقْوى ههُنَا، اَلتَّقْوى ههُنَا، اَلتَّقْوى ههُنَا
وَيَشِيْرُ اِلى صَدْرِهِ (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Allah tidak
memandang kepada rupa-mu dan postur tubuhmu tetapi Ia memandang kepada hatimu
dan amal perbuatanmu. Taqwa itu di sini !, 3x (beliau mengisya-ratkan
ke dadanya)”. (HR. Muslim)
Ma’syiral Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumullah
Sebagaimana sahabat ‘Ubay
bin Ka’ab ketika ditanya sayyidina Umar bin Khaththab ra., beliau menjelaskan: “bahwa prilaku bertaqwa, yaitu bersikap hati-hati dalam segala per-kara”. Pertama, menjaga diri, dari murka
Allah Swt seperti: syirik, kafir, meninggalkan ibadah, berzina, bersumpah
palsu, durhaka kepada orang tua, korupsi, dan sebagainya. Kedua,
menjaga diri dari perbuatan yang merusak atau merugikan diri sendiri seperti: minum
khamar/narkoba, berjudi, boros, menyia2-kan waktu, malas bekerja, tidak menuntut ilmu, tidak berbudi, dan sebagainya. Ketiga, menjaga diri dari perbuatan
yang merusak dan merugikan orang lain seperti: menipu, mencuri, merampok,
memfitnah, menganiaya, berkhianat, mengadu domba, berdusta, mengganggu
ketentraman ru-mah tangga orang lain, mencemari dan merusak lingkungan dan
sebagainya.
Ma’syiral
Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumullah
Jadi orang yang taqwa itu mereka yang selalu berhati-hati
dan menjaga diri dari semua perkara (kehendak, pemikiran, perkataan, dan
perbuatan) yang mengundang kemurkaan Allah Swt, kemudian merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain. Sikap berhati-hati didalam-nya terdapat tiga hubungan kehidupan. Pertama,
hubungan kepada Allah Swt; orang yang taqwa selalu berhati-hati menjaga
diri baik (tekad, ucap dan lagkah) dari semua perbuatan yang dimurkai oleh
Allah Swt; di bidang akidah menjaga kemurnian akidah dari segala macam rawasib
(kemusyrikan dan kekafiran); di bidang ibadah selalu menjaga kemurnian ibadah
sesuai dengan panduan al-Qur’an dan tuntunan Sunnah Rasul Saw; di bidang ahklaq
selalu menjaga diri dari pelanggaran etika ajaran
Islam.
Kedua, hubungan
terhadap semua manusia sebagai makhluk sosial (ijtimaiyah); orang yang
bertaqwa selalu berhati-hati menjaga diri dari semua perbuatan yang merugikan orang
lain, walaupun akan menguntungkan baginya. Karena itu pula kita diwajibkan
untuk amar ma’ruf nahi munkar untuk menghilangkan dan mencegah segala bentuk
kemurkaan yang dapat menimbulkan malapetaka dan bencana bagi kehidupan ini.
Ketiga, hubungan terhadap diri
pribadi dimana manusia sebagai mahluk individual (nafsiah) yang
bertanggung jawab atas semua per-buatannya di hadapan Allah; maka hati-hati dalam
rangka taqwa itu ialah kemampuan menjaga diri dari semua pe-langgaran (baik
terhadap peraturan Allah maupun peraturan pemerintah) yang
dapat merugikan diri sendiri. Sebab semua bentuk pelanggaran sekecil apapun
akan merugikan bagi yang bersangkutan.
Sebagaimana Firman-Nya:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهُ. وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهُ
“Barangsiapa yang
mengerjakan kebaikan seberat biji zarrah, kelak dia akan melihat balasannya.
Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat biji zarrah, niscaya diapun akan
melihat balasannya pula”.(QS. al-Zalzalah,
99: 7-8)
Ma’syiral
Muslimin Sidang Jum’at Rahimakumullah
Kesimpulan;
Adalah tiga hal
yang harus diperhatikan
dlam mewujudkan ketaqwaan pada kehidupan sehari-hari yakni:
1.
Pertama, kita harus; berhati-hati
menjaga diri,
dari melakukan berbagai perbuatan yang menyebabkan murka Allah Swt., seperti:
syirik, kafir, meninggalkan ibadah, berzina, bersumpah palsu, durhaka kepada
orang tua, korupsi, dan sebagainya.
2.
Kedua, kita harus; berhati-hati menjaga diri dari perbuatan yang
merusak atau merugikan diri sendiri
seperti:
minum khamar (sekarang termasuk narkoba), berjudi, boros, membuang-buang waktu,
tidak mau bekerja (malas), tidak menuntut ilmu, tidak berbudi, dan sebagainya.
3.
Ketiga, kita harus; berhati-hati
menjaga diri dari perbuatan yang merusak dan merugikan orang lain
seperti:
menipu, mencuri, merampok, memfitnah, menganiaya, berkhianat, mengadu domba,
berdusta, mengganggu ketentraman ru-mah tangga orang lain, mencemari dan
merusak lingkungan dan sebagainya.
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan petunjuk dan tuntunan kepada kita untuk meningkatkan ketaqwaan
sebagai landasan yang kokoh untuk membangun kembali kehidupan masyarakat dan
bangsa kita, demi menuju bangsa yang diridhai Allah Swt, Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِ هذَا
وَاسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلَمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Oleh: Moh.Ali Mahmudi,S.Pd.I
Mengukir Prestasi Dihadapan
Ilahi
Paldam, 16/05-'14
Paldam, 16/05-'14
Ma’asyiral
muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah.....
Kita
semua maklum bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli,
Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Dari padanya-lah berkembang menjadi banyak berbangsa-bangsa
bahkan suku-suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau
berdua. Dalam hal ini Allah swt., berfirman (QS.Al-Hujurat:13).
artinya:“Hai
manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang YG paling mulia diantara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.”
Disebutkan
dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada
perbedaan. Adapun yang membedakan manusia satu dgn yg lainnnya adalah Ketaqwaannya,
yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah swt., dan RasulNya. Rasulullah
Saw., bersabda:
لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِالدِّيْنِ
أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ. (رواه البيهقي).
“Tidaklah seseorang mempunyai
keutamaan melebihi orang lain, kecuali karena ketaatan dalam agama atau amal
shalih.”
Ma’asyiral
muslimin jama’ah Jum’ah rahimakumullah ...
Akan
tetapi Saat ini, kehidupan manusia berbalik dgn apa yg telah di isyaratkan ayat
dan hadits di atas. Bukan lagi berlomba2 dalam ketaatan beragama akan tetapi perkembangan manusia modern saat ini, berlomba-lomba dalam
mengembangkan potensi keduniaan-nya. demi rasa gembira, puas, bangga, bahkan kesombongan.
merasa dikdaya dgn kekuasaanya, adikuasa dgn kepemimpinannnya, membanggakan kekayaan
diatas kemiskinan orang lain, membanggakan jabatan dan kedudukan yg telah
diraihnya, sehingga hak-hak syariat agama pun terlupakan. BAHKAN terkadang tidak
mempedulikan perintah Allah swt., dan larangan-NYA. Padahal disaat manusia
punya; KEkuasaAN, KEkayaAN, jabatan dan kedudukan, pada saat itulah manusia sedang
diuji oleh Allah swt., apakah mreka gol. hamba yang taat atau gol. hamba yg Laknat.
Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawaban.
Ma’asyiral
muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah ..
Kemudian yang menjadi pertanyaan dalam
kehidupan kita sekarang ini adalah..! Prestasi manakah yang akan kita
raih? Prestasi barrun, taqiyyun, karimun (baik, taqwa, mulia!)
Ataukah sebaliknya prestasi fajirun, syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat,
celaka, hina) Dalam hal ini? Kita sudah sepatutnya koreksi diri sejauh mana
kita mentaati ajaran Allah swt., dan RasulNya. Dalam sebuah wasiat Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
أَيُّهَا النَّاُس إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا
ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ.
“Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya
engkau bagaikan (kumpulan) hari-hari, setiap ada sehari yang berlalu, maka
hilanglah sebagian dari dirimu.”
Ma’asyiral
muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah ..
Wasiat
Imam Al-Hasan Al-Bashri ini selanjutnya akan menimbulkan pertanyaan bagi kita
terhadap diri sendiri;
·
Sudah berapa umur kita yang
berlalu begitu saja .. ?
·
Sudah berapakah amal sholeh yang
telah kita investasikan di sisi Allah .. ?
·
Sudah berapa pula, amal maksiat
yang telah kita lakukan yang menyebabkan kita nantinya terseret kedalam Neraka
.. ?
Marilah,
segera kita tahsibun li nafsi /evaluasi diri dengan berjanji pada
diri-sendiri untuk berhenti dari kemaksiatan, serta memperbaiki diri untuk
meningkatkan prestasi dihadapan Allah swt., dan Rasulnya. Semua Umat
Islam termasuk kita ini telah diberi hidayah berupa Al-Qur’an (dan As-Sunnah).
Selanjutnya tinggal bagaimana kita umat Islam menerjemahkan dalam kehidupan
sehari-hari. Apakah kita termasuk dhalimun linafsih, muqtashid, atau
saabiqun bil khairat bi idznillah. Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu
Katsir memberikan pengertiannya :
·
dhalimun
linafsihi:
Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) dan banyak melanggar apa yang
Allah haramkan.
·
Muqtashid: Orang yang
menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang
sunnah dan mengerjakan yang makruh.
·
Sabiqun bil
khairat:
Orang yang mengerjakan kewajiban dan sunnah, serta meninggalkan yang haram dan
makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah/subhat. (karena wara’nya)
Ma’asyiral
muslimin, jama’ah Jum’ah rahimakumullah ..
Tak
seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk berada dalam penjara Allah
yang berupa siksa api Neraka yang sangat dasyat.. Tetapi semua itu kembali kepada
kita masing-masing. Kalau kita tidak mempedulikan syari’at Allah swt., tentulah
kita akan masuk di dalam neraka tsb.. Na’udzu
billah. , sebagaimana sabda Rasul SAW.
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ
بِالشَّهَوَاتِ.
“(Jalan) menuju surga itu penuh dengan
sesuatu yang tidak disukai manusia, dan (jalan) Neraka itu dilingkupi sesuatu
yang disukai oleh syahwat”
Kesimpulan ;
1.
Bukan umur yg berlalu yg kita hitung untuk meningkatkan
prestasi di sisi Allah swt., akan tetapi sekarang dan yg akan datanglah umur yg menentukan prestasi kita dalam menggapai
ridho Allah swt..
2.
Jadikanlah diri sebagai
Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan sunnah, serta
meninggalkan yang haram dan makruh, serta meninggalkan hal-hal yang subhat.
3.
Jadikanlah sosial
kemasyarakatan kita sbg mu’amalah syar’iyah
sehingga menjadikan prestasi yg luar biasa disisi Allah swt. Manusia sekitar,
4.
Dan selalu berusaha Menjauhi segala macam
bentuk kemaksiatan.
Semoga
Allah menjadikan kita ke dalam golongan umat terbaik ; barrun, taqiyyun,
karimun (baik, taqwa, mulia!)
dan terjauhkan dari fajirun,
syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat, ahli celaka, ahli hina). Amin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
Oleh: Moh.Ali Mahmudi,S.Pd.I
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى
اَمَرَنَا بِالاتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنَ. اَشْهَدُ
اَنْ لاَّ ِالهَ ِالاَّ للهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِيَّاهُ نَعْبُدُ
وَاِيَّاهُ نَسْتَعِيْنَ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. اَلّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا
بَعْدُ : فَيَا عِبَادَالله اِتَّقُ اللهَ تَعَالَى رَبَّ الْعَالمَيْنَ.
وَسَارِعُوْ اِلى مَغْفِرَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ
سُبْحَانَهُ وَتَعَلَى بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ
الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَزِيْز. اِنَّ اللهَ
وَمَلاَئِكَتِهِ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَلّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلاْحْيَاءِ مِنْهُمُ
اْلاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُّجِيْبُ الدَّعْوَاتِ رَبَّنَا اتِنَا
فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَهً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَالله, اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالاْحْسَانَ وَاِيْتَائِ ذِى
الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرْ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهَ اَكْبَرَ وَاللهُ
يَعْلَمُ مَا يَصْنَعُوْنَ اَقِيْمُوا الصَّلوةَ.
Langganan:
Postingan (Atom)
